18 November 2007

Bajakan?


Pake software bajakan yang dibeli di mangga dua? Donlot lagu dari internet?

Ada juga gerakan yang menentang pembajakan dan mendukung penggunaan software ASLI.

Di Indonesia.. memberantas pembajakan kayaknya bakal sulit dilakukan. Internet menyediakan banyak tempat untuk mendonlot mp3, software, dll. Blom lagi kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang rendah. Boro-boro beli CD asli, untuk makan saja susah.

Beberapa orang juga berpikir.. para musisi terkenal atau pembuat software ga bakalan susah kalo satu orang aja yang membajak, toh mereka masih tetep kaya dan banyak duit (minimal lebih kaya dan lebih banyak duit dari penikmat barang bajakan).

Ada juga temen-temen disekitar gw yang menawarkan solusi lain. Kalo film atau mp3 dari luar (negri) boleh lah pake bajakan. Tapi kalo bikinan dalam negri.. mereka selalu mencoba untuk beli yang asli. Setidaknya untuk mensupport temen2 dari negeri sendiri.

Tapi sayangnya gerakan ini hanya dilakukan sebagian kecil temen2 gw.. yang kayaknya ga membawa pengaruh banyak di dunia bajak perbajakan.

***
Anyway, kita ambil satu contoh kecil, misalnya..

Gw baru saja mendonlot lagu dari internet. Albumnya blom dilaunching, tapi di internet sudah tersedia versi bajakannya. Lagu itu gw puter di kantor selama beberapa hari. Beberapa temen (anggap saja ada 3 orang) yang tertarik dan menyukainya langsung membeli CD aslinya.

Satu orang mendonlot, dan 3 orang membeli CD aslinya.

Sebenernya gw telah mempromosikan lagu/album dari musisi tersebut tanpa memungut bayaran sepeserpun.

***
Mungkinkah sebenernya pola industri ini yang harus diperbaiki..?

Beberapa musisi indie bahkan berpikir jauh kedepan (atau mungkin sebenernya jauh kebelakang). Mereka rela membagi2kan sample musik mereka demi promosi lagu mereka. Toh jika semua orang mengenal lagu tersebut, mereka sendiri juga yang menuai hasilnya.

Melirik ke industri tetangga..

Free magazine. Mereka tidak memungut uang sepeserpun atas satu kopi majalah yang dibaca oleh pembaca.

Televisi. Ditengah era tv berlangganan, di Indonesia lebih populer siaran tv biasa melalui antena, tanpa harus berlangganan ataupun membayar.

Lalu, darimana pemilik beberapa bisnis diatas mendapatkan keuntungan? Yup. Dari spot iklan. Mereka merelakan pemasukan dari satu hal (yang mungkin kecil), dan memilih untuk mencari celah lain yang lebih menguntungkan dapat menghasilkan uang lebih banyak.

Mungkinkan industri musik harus mulai bergeser ke arah ini?

***
Pembajakan mungkin susah untuk diberantas, mungkinkah ada solusi jitu untuk mengatasinya? Sekali lagi, ini hanyalah wacana ditengah maraknya pembajakan di Indonesia.

foto: Gettyimages

1 comments:

wisnu P said...

/Comment moved from Blog friendster/

Pembajakan biasanya terkai dengan HAKI, copyright atau apalah namanya. Tapi, istilah-istilah tadi berbeda-beda dalam definisinya. Kalau sekarang pembajakan marak, dan sepertinya akan terus seperti itu, itu bisa kita anggap sebagai fenomena budaya, yaitu fenomena budaya membajak. hal ini sama dengan fenomena2 budaya lainnya, seperti fenomena prositusi, korupsi, plagiatisme, perulangan mode (busana, musik, produk2 kesenian), dan lain-lainnya. fenomena2 tadi akan terus ada sepanjang zaman, begitu pula dengan pembajakan. Janganlah menjadi parno dengan adanya pembajakan, bukan begitu?

Posted by: daniel | November 19, 2007 12:48 AM

/

Begitu ya? Makanya ada acara judulnya fenomena di stasiun televisi swasta..
:P

Posted by: wisnu | November 19, 2007 01:07 AM